Mengapa Luka Perlu Dijahit?04.16.10

Anda tentu sering mendengar seorang dokter yang menjahit luka pasiennya. Anda tentu tidak ingin mengalami hal yang sama sebab dalam pikiran anda pastilah luka yang dijahit tersebut akan terasa sangat menyakitkan. Sudah luka, dijahit pula.

Tak kenal maka tak sayang, begitu kurang lebih pepatah yang sering kita dengar dari orang orang di sekitar kita. Begitu pula dengan proses jahit menjahit luka. Bila anda tidak tahu manfaat dan tujuan penjahitan luka maka sudah barang tentu anda akan merasa ketakutan dan ogah untuk mengalaminya.

Mengapa luka perlu dijahit?

Tujuan utama penjahitan luka adalah untuk merapatkan luka yang terbuka guna mempercepat proses penyembuhan. Dengan merapatkan kembali jaringan kulit yang terputus maka sel sel darah akan membentuk bekuan darah yang diikuti dengan pembentukan jaringan kulit baru. Proses ini akan mengurangi terjadinya perdarahan dan mempercepat penyembuhan luka. Penjahitan luka juga akan mengurangi terjadinya infeksi dan mencegah terbentuknya jaringan parut yang lebar.

Bagaimana proses penjahitan luka?

Begitu tiba di rumah sakit, dokter akan membersihkan luka dengan larutan aseptik sampai benar benar bersih. Benda asing atau kotoran yang berpotensi menghambat penyembuhan luka juga akan disingkirkan. Proses ini memang terasa sangat menyakitkan tetapi harus dilakukan untuk mencegah terjadinya infeksi dan gangguan terhadap proses penyembuhan luka.

Sebelum dilakukan penjahitan, anda akan dipindahkan ke meja operasi dan berbaring di bawah lampu yang sangat terang. Untuk luka kecil dan terlokalisir maka dilakukan pembiusan lokal pada daerah luka tetapi bila luka besar dan tersebar maka sebaiknya dilakukan pembiusan umum. Pembiusan ini akan meniadakan rasa sakit selama proses penjahitan.

Selanjutnya dilakukan penjahitan luka dengan benang yang sesuai dengan lokasi dan jenis luka. Bila luka terlalu dalam maka dilakukan dua kali penjahitan yakni penjahitan dalam dan luar. Penjahitan dalam gunanya untuk mencegah terbentuknya rongga dibawah kulit yang berpotensi menghambat penyembuhan luka. Benang yang digunakan untuk penjahitan dalam adalah benang yang diserap tubuh sementara untuk penjahitan luar digunakan benang sutera yang tidak diserap.

Tidak seperti penjahitan dalam, penjahitan luar memerlukan perhatian khusus sebab akan menentukan bentuk luka setelah proses penyembuhan. Penjahitan dilakukan dengan memperhatikan garis garis lipatan kulit. Penggunaan ukuran benang pun disesuaikan dengan lokasi luka dan ketebalan kulit pada daerah luka.

Setelah proses penjahitan selesai, selanjutnya dilakukan pentutupan luka dengan kasa obat yang kemudian ditutup dengan kasa steril dan direkatkan dengan plester.

Apa yang anda harus perhatikan setelah penjahitan luka?

Pesan nomor satu adalah jangan sampai luka basah atau terkena air. Usahakan saat mandi anda hanya membersihkan daerah di sekitar luka tanpa membasahi luka atau kasa penutup luka.

Pesan kedua, jangan mengotori luka. Anda harus menjaga luka tetap bersih selama proses penyembuhan. Jika kotor maka infeksi akan mudah masuk dan jahitan luka akan rusak. Bila ini terjadi maka akan dilakukan penjahitan ulang dan sudah barang tentu selain tambahan biaya, setelah sembuh jaringan parut yang ditinggalkan akan lebih besar lagi.

Selama proses penyembuhan, makanlah makanan yang banyak mengandung protein dan vitamin guna membantu proses pembentukan jaringan baru.

Kapan jahitan sebaiknya dibuka?

Untuk luka di daerah yang banyak mengandung pembuluh darah seperti kepala dan wajah, jahitan bisa dibuka setelah hari ke 5. Sementara untuk daerah lengan atas dan tubuh, jahitan dibuka pada hari ke 7. Untuk daerah kaki, jahitan baru dibuka setelah hari ke 10. Bisa saja waktu yang dibutuhkan lebih panjang dari biasanya terggantung dari kondisi luka dan keadaan pasien tersebut. Pembukaan jahitan sebaiknya dilakukan oleh dokter atau petugas kesehatan yang terlatih.

Masih takutkah anda dijahit?

  Copyright secured by Digiprove © 2010 I Made Cock Wirawan

Posted in Info Kesehatanwith No Comments →

Mengenal Lebih Jauh Tentang Operasi Seksio04.07.10

Operasi seksio atau sering disingkat SC adalah operasi pembedahan untuk melahirkan bayi melalui perut ibu. Meskipun kesehatan ibu dan bayi lebih terjamin, bukan berarti operasi ini tidak bisa mengalami komplikasi. Karena termasuk operasi besar tentu resiko yang terjadi pun akan lebih besar serta proses penyembuhan luka yang jauh lebih lama jika dibandingkan dengan persalinan normal.

Operasi seksio hanya dilakukan bila proses persalinan normal tidak mungkin dilakukan. Banyak faktor yang dapat menyebabkan ketidakmampuan melahirkan secara normal ini, baik yang datangnya dari ibu maupun janin yang dikandungnya.

Meskipun demikian, angka kelahiran melalui operasi seksio kian hari kian meningkat. Padahal kalau ditilik secara lebih mendalam, banyak ibu hamil yang sebenarnya dapat melahirkan secara normal tapi lebih memilih untuk melakukan operasi dengan berbagai alasan.

Jadi, sangatlah penting bagi ibu hamil untuk mengenal secara lebih mendalam tentang apa itu operasi seksio.

Mengapa operasi seksio menjadi pilihan melahirkan bayi?

Dokter akan menganjurkan anda melahirkan dengan jalan operasi jika persalinan normal melalui vagina tidak memungkinkan. Umumnya operasi seksio adalah tindakan terencana namun di lapangan banyak operasi yang dilakukan secara mendadak akibat gangguan proses melahirkan secara normal.

Berikut adalah hal hal yang menjadi pertimbangan dokter sebelum memutuskan apakah seorang ibu hamil layak untuk dilakukan operasi seksio :

  • Seorang ibu dengan kehamilan kembar.
  • Ibu hamil dengan penyakit berat seperti infeksi HIV, herpes dan penyakit jantung.
  • Ibu hamil dengan tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol.
  • Ibu hamil dengan bentuk panggul yang sempit.
  • Terdapat masalah dengan plasenta.
  • Terdapat masalah dengan tali plasenta.
  • Posisi bayi di dalam rahim yang tidak normal, misalnya sungsang.
  • Terdapat gangguan aliran darah pada janin.
  • Ibu hamil dengan riwayat operasi seksio sebelumnya.

Dapatkah seorang ibu hamil meminta untuk dilakukan operasi seksio?

Kenyataannya memang banyak operasi seksio saat ini dilakukan atas permintaan pasien meskipun tanpa alasan medis. Mereka umumnya memilih melakukan operasi karena takut kesakitan saat melahirkan secara normal. Alasan lain adalah mereka lebih mudah menentukan tanggal dan waktu kelahiran dengan operasi. Selain itu, mereka juga ketakutan organ kelaminnya rusak setelah persalinan normal.

Dari sisi medis, etika permintaan operasi seksio oleh ibu hamil  masih menjadi perdebatan. Tapi umumnya para dokter beranggapan bahwa sah saja seorang ibu hamil meminta operasi asal mereka sudah diberikan pemahaman tentang keuntungan dan kerugian atas tindakan yang akan dilakukan.

Resiko medis yang dapat terjadi pada operasi seksio antara lain infeksi, perdarahan, dan bayi yang dilahirkan akan mudah mengalami gangguan nafas setelah operasi. Setelah operasi, perawatan di rumah sakit juga akan lebih lama bila dibandingkan dengan persalinan normal. Rasa nyeri setelah operasi juga jauh lebih sakit bila dibandingkan dengan persalinan normal.

Operasi seksio juga akan meningkatkan resiko medis pada kehamilan berikutnya. Kehamilan setelah operasi seksio juga akan meningkatkan resiko terjadinya ruptur atau pecahnya rahim. Dan bila hal ini terjadi tentu akan membahayakan keselematan ibu dan janin.

Meskipun pada akhirnya ibu hamil menerima segala resiko tersebut namun operasi seksio hanya dapat dilakukan setelah umur kehamilan diatas 39 minggu kecuali atas indikasi medis yang mutlak.

Apa saja tahap tahapan operasi seksio?

Sebelum operasi

Operasi seksio memakan waktu kurang lebih 45 sampai 60 menit bertempat di kamar operasi. Jadi, jika anda berada di ruang persalinan atau kamar perawatan maka anda akan dipindahkan ke kamar operasi. Setiba di kamar operasi, tim operator yang terdiri dari dokter kebidanan, dokter anestesi dan perawat akan menjelaskan prosedur tindakan kepada anda. Setelah itu akan dilakukan pembiusan melalui tulang belakang (epidural/spinal block). Setelah dilakukan pembiusan, perut anda akan dibersihkan lalu di tutup dengan kain steril.

Saat operasi

Setelah semua persiapan selesai, dokter kebidanan akan memulai melakukan pembedahan. Irisan umumnya dilakukan melintang pada bagian bawah perut tepat diatas lipatan perut bawah sepanjang lebih kurang 20 cm. Irisan ini akan diperdalam sampai menembus otot dan rahim. Setelah rahim terbuka, bayi yang ada di dalamnya akan dikeluarkan berikut plasenta yang melekat pada dinding rahim. Setelah dilakukan pembersihan rahim dari sisa sisa plasenta, selanjutnya dilakukan penjahitan kembali secara lapis demi lapis pada setiap jaringan sampai kulit. Proses penutupan atau penjahitan inilah yang biasanya memakan waktu lama.

Setelah operasi

Setelah operasi selesai, anda akan dipindahkan dari kamar operasi menuju kamar pemulihan. Di tempat ini, kondisi anda akan terus di monitor sampai beberapa jam setelah operasi. Yang di monitor antara lain, kondisi hemodinamik atau tekanan darah anda dan adanya perdarahan pasca operasi. Bila setelah waktu pemulihan selesai dan tidak terdapat komplikasi maka anda akan segera dipindahkan kembali ke kamar perawatan.

Perlu diingat bahwa 7 hari setelah tindakan adalah masa masa rawan terhadap kemungkinan terjadinya infeksi. Gejala atau tanda tanda infeksi pasca operasi dapat ditandai dengan :

  • Nanah yang keluar dari luka operasi.
  • Demam.
  • Nanah atau darah yang keluar dari kemaluan.
  • Penyembuhan luka yang lama.

Bila terjadi tanda dan gejala tersebut, segera kontrol ke dokter agar dapat dilakukan tindakan lebih lanjut.

  Copyright secured by Digiprove © 2010 I Made Cock Wirawan

Posted in Info Kesehatanwith No Comments →

  • You Avatar
    Blog Ini Ditulis Oleh Seorang Dokter Yang Kebetulan Suka Pada Kemeriahan Dunia Blogger.
  • Arsip

  • Kategori

  • Berlangganan Artikel

    Tulis Email Anda


    Preview | Powered by FeedBlitz
  • Tulisan Terbaru

  • Konsultasi Online

  • Komunitas

    Bali
Blogger Community

    Internet Sehat

  • Pengunjung

    website statistics