Blue Energy05.30.08

Beberapa hari terakhir ini media massa kita sedang disibukan oleh berita heboh tentang hal hal yang diluar nalar. Berita pertama tentang seorang penemu dadakan yang mengaku menemukan ‘blue energy’ alias sumber energi pengganti BBM yang berasal dari air. Anehnya, setiap kali disuruh menjelaskan tentang hasil temuannya, sang penemu mendadak sakit. Saking hebohnya sampai sampai para ahli UGM pun turun gunung untuk membantahnya.

Berita kedua tentang seorang triliunder dari Jawa Barat yang mengaku mempunyai kekayaan 20 kali APBN Indonesia atau jika dirupiahkan mencapai 18 ribu triliun. Jika kekayaan ini benar maka uang itu dikatakan mampu untuk membayar lunas seluruh utang Indonesia. Ironisnya, sang triliunder ini di cap sebagai orang gila oleh aparat setempat. Tidak hanya itu, keluarganya pun sudah memberikan bantahan terhadap semua pernyataan sang triliunder.

Yang cukup menggelitik saya pada berita kedua adalah penulisan 18.000 triliun di beberapa media cetak dan online. Bila sebelumnya kita mengenal 1000 juta sebagai semiliar, dan 1000 miliar sebagai setriliun, lalu 1000 triliun apa dong namanya?

Dari sudut medis, memang saat ini rakyat Indonesia sedang dalam kondisi sakit keras terutama kondisi psikologisnya. Seandainya para psikolog dan psikiater kompak melakukan pemeriksaan kejiwaan rakyat Indonesia, saya yakin mereka akan menemukan hasil yang mencengangkan.

Segala bentuk tekanan baik itu tekanan ekonomi, politis, budaya, spritual dan fisik sudah tidak mampu lagi dihadapi oleh rakyat republik ini. Mudah mudahan semua keadaan ini tidak semakin parah. Semoga.

Posted in Intermezzowith 27 Comments →

Terima Kasih Chris John01.27.08

2221091703 Be53e8d6d2 O

Tulisan ini sepenuhnya saya dedikasikan untuk saudara Chris John yang mampu mengharumkan nama bangsa ini ditengah keamburadulan di segala bidang.

Lelaki yang lahir dengan nama kecil Yohannes Christian John ini mampu membius jutaan penonton televisi di Indonesia dengan aksi briliannya ketika menghempaskan Roinet Caballero dari Panama pada ronde kedelapan dengan kemenangan TKO. Dengan kemenangan ini, Chris John mampu mempertahankan gelar juara kelas bulu versi badan tinju dunia WBA sebanyak 9 kali. Prestasi ini tentu sangat membanggakan ditengah miskinnya prestasi olah raga Indonesia.

Dimulai dengan kemenangan atas Osamu Sato pada tahun 2004, selanjutnya berturut turut Chris John menundukan Jose Cheo Rojas, Derrick Gainer, Tommy Browne, Juan Manuel Marquez, Renan Acosta, Jose Cheo Rojas, Zaiki Takemoto, dan terakhir Roinet Caballero tadi malam. Deretan kemenangan ini tentu bukan prestasi sembarangan. Hal ini sudah bisa membuktikan siapa sebenarnya Chris John.

Petinju yang lahir di Jakarta 14 September 1979 anak pasangan Johan Tjahjadi (alias Tjia Foek Sem) dan Maria Warsini ini, mampu membuka mata dunia bahwa Bangsa ini belum menyerah. Indonesia masih memiliki anak bangsa yang mampu berprestasi di pentas dunia. Bangsa ini tidak hanya bisa berbicara karena terorisnya, budak a.k.a pembantunya, korupsinya, penindasan ham-nya, tetapi juga dalam bidang olah raga.

Olah raga tinju sebenarnya bukan ‘milik’ Indonesia, di Asia Tenggara kita masih kalah jauh dengan Thailand dan Filipina. Kekalahan ini bisa kita lihat di ajang SEA Games kemarin. Thailand hampir menyapu bersih semua medali emas yang dipertandingkan di cabang tinju. Namun suasana berbeda bisa kita lihat di tinju profesional. Sudah beberapa kali bangsa ini melahirkan petinju - petinju juara dunia. Mulai dari era Ellyas Pical sampai dengan Chris John saat ini.

Semoga prestasi Chris John ini mampu melecut para pemuda penerus bangsa ini agar lebih berprestasi di bidang yang mereka geluti. Tidak hanya bidang olah raga, di bidang pendidikan, pekerjaan dan lain lain kita bisa berprestasi. Buah dari prestasi itu pasti kita bisa nikmati baik untuk diri sendiri maupun untuk bangsa ini.

Terima kasih Chris John.

Posted in Intermezzowith 13 Comments →

Delapan Harapan di Tahun 200812.27.07

Pray

Tidak terasa tahun 2008 tinggal 5 hari lagi artinya sudah 360 hari kita melewati tahun 2007. Banyak kesan dan cerita yang telah berlalu di tahun ini, dan banyak harapan dan keinginan yang menanti di tahun depan.

Tahun 2007 anak saya yang pertama Ni Putu Evania Ananda Putri Wirawan mulai bersekolah di taman bermain alias playgorup. Seperti anak anak yang baru mulai sekolah tentu ada kelucuan dan kegemasan dalam diri saya melihat Nanda menangis di kelas, tidak mau bergaul dengan teman dan lain lain. Namun hal tersebut tidak perlu saya khawatirkan karena merupakan proses dari perkembangan anak.

Tahun 2007 saya mulai menggunakan domain blogdokter.net untuk ngeblog. Sebelumnya saya menggunakan server gratisan di wordpress.com. Cerita dan kisah ngeblog tentu tidak perlu diceritakan lagi karena pasti semua pembaca blog ini sudah mengetahuinya via arsip blog. Kesimpulannya, Ngeblog itu menyenangkan dan menghibur.

Manusia optimis adalah manusia yang penuh harapan dan cita cita. Delapan (mengapa mesti delapan sih?) harapan saya di tahun 2008 adalah :

1. Berhasil mengikuti pelatihan ATLS di bulan februari 2008 dengan sukses.
2. Mencari pekerjaan baru, karena terus terang saya sudah mulai tidak betah dengan tempat saya bekerja saat ini.
3. Hidup bebas utang, karena tahun depan seluruh utang utang saya lunas.
4. Mengajak anak anak ke kebun binatang. Terus terang karena kesibukan dan tetek bengeknya sampai sampai saya melalaikan janji mengajak anak ke kebun binatang.
5. Menyewa hostingan untuk forums.blogdokter.net dan mengelola forum itu sehingga menjadi forum kesehatan terbesar seperti milis dokter umum yang menjadi milis kesehatan terbesar.
6. Mengikuti kursus TOEFL. Ingin banget mengikutinya sebagai modal mencari pekerjaan yang baru.
7. Program menguruskan badan dan lebih mendisiplinkan diet. Walau sebagai dokter yang tahu kesehatan saya termasuk orang yang lalai dalam menjaga kesehatan diri sendiri.
8. Selalu menjadi orang yang berguna bagi keluarga dan orang lain baik di dunia nyata maupun di dunia maya.

Demikian harapan saya sekaligus menjawab tag dari Sang Petualang.

Posted in Intermezzowith 38 Comments →

Blog Dokter Rangking 54, 58 dan 8612.09.07

Ranking

Kita sela dahulu pembahasan mengenai sakit kepala dengan sekilas info :

Menurut blog ini, Blog Dokter berada di peringkat 54 dari 100 blog Indonesia yang masuk ke Top 100. Kemudian saya telusuri di blog ini, Blog Dokter masuk peringkat 58 dari 100 untuk blog yang berbahasa Indonesia, dan peringkat 86 dari 100 untuk semua bahasa. Peringkat ini sewaktu-waktu bisa berubah menurut indeks skore dari beberapa ranking yang di rata-ratakan.

Sebagai penulis blog amatiran yang belum mahir benar menulis, peringkat ini tentu sangat bermanfaat untuk mengetahui seberapa penting blog ini bagi masyarakat blogosphere. Mudah-mudahan blog ini memang memberi manfaat bagi pembaca semua.

Seperti biasa saya mohon maaf bila ada kata-kata yang salah yang saya tulis di dalam blog ini, begitu pula saran-saran/tips yang saya berikan ternyata basi dan tidak memberikan manfaat bagi pembaca sekalian. Semua itu semata-mata karena masih terbatasnya kemampuan saya dibidang ilmu yang saya terjuni saat ini.

Terima kasih kepada semua pihak yang membantu saya dalam mengembangkan blog ini yang tidak bisa saya sebutkan satu per satu, begitu pula kepada pengunjung setia Blog Dokter baik yang suka berkomentar maupun yang hanya numpang lewat.

Tulisan ini bukan bermaksud narsis, cuma sekedar intermezzo aja. :)

Posted in Intermezzowith 32 Comments →

Depkes si Anak Tiri11.29.07

Rapat koordinasi terakhir persiapan jajaran kesehatan menghadapi Konferensi UNFCCC yang berlangsung tadi pagi di Kantor Dinas Kesehatan Propinsi Bali benar benar merupakan antiklimaks dari segala persiapan yang selama ini telah dilakukan. Semua jadual dan rencana kegiatan akhirnya menjadi sampah kertas yang tidak berguna akibat dari kurang meresapnya arti koordinasi diantara aparat birokrasi di negeri ini.

Rapat yang dihadiri langsung oleh Dr.Ratna Rosita, MPHM dari Direktur Pelayanan Medis dan Gizi Dasar Depkes ini praktis hanya berisikan keluh kesah jajaran Depkes tentang tidak dilibatkannya mereka dalam koordinasi persiapan konferensi oleh panitia pusat. Alasan yang dikemukakan oleh panitia pusat adalah karena mereka telah menunjuk sebuah institusi kesehatan Medika Plaza untuk memegang segala urusan di bidang kesehatan. Tentu saja penunjukan ini sangat mengecewakan Depkes sebab saat dilakukan rapat persiapan oleh panitia pusat sampai menunjuk Medika Plaza, satu pun wakil Depkes tidak diundang.

Konsekuensi dari penunjukan Medika Plaza ini adalah tidak adanya dana untuk jajaran kesehatan di daerah dalam mengawal kegiatan konferensi. Tanpa adanya dana operasional ini tentu akan sulit untuk melaksanakan seluruh kegiatan yang telah terjadual dengan baik. Itikad baik dari Medika Plaza yang memberikan dana 50 juta ditanggapi sinis oleh peserta rapat. Secara aklamasi mereka mengembalikan dana tersebut dan bertekad memangkas seluruh kegiatan sehingga bisa dilaksanakan tanpa dukungan dana sama sekali.

Ironis memang. Pemerintah yang sudah mempunyai jajaran kesehatan plat merah dari pusat sampai ke daerah harus menunjuk swasta untuk mengelola pengamanan bidang kesehatan dalam perhelatan sebesar ini. Ironisnya, Medika Plaza yang ditunjuk melaksanakan tugas ini, tidak satu pun mempunyai kantor cabang di Bali sehingga semua peralatan harus di boyong dari Jakarta. Tidak hanya itu, kekurangan peralatan dan ambulance mengharuskan mereka menyewa peralatan dari beberapa rumah sakit swasta yang ada di Bali. Padahal bila dikoordinasikan oleh Depkes semua rumah sakit swasta yang ada di Bali juga akan bergerak untuk memberikan dukungan ini sehingga peranan dari Medika Plaza tidak terlalu dibutuhkan.

Sebagai penonton, kita hanya bisa berharap mudah-mudahan tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan dalam konferensi ini sebab nama baik Bali dan bangsa Indonesia akan dipertaruhkan disini, dan mudah mudahan kekacauan dalam sistem koordinasi ini tidak menganggu pelaksanaan konferensi PBB yang rencananya dihadiri oleh lebih dari 15.000 peserta dari 189 negara.

Posted in Editorialwith 9 Comments →

Canon Powershot A46009.10.07

Akhirnya setelah menerima masukan dari teman teman milis dan berburu informasi lewat google.com, saya putuskan untuk menebus kamera digital Canon Powershot A460 seharga Rp. 1.350.000,00 di Anugerah Photo Denpasar. Ditambah dengan pembelian beberapa aksesori seperti camera bag dan memori SDCard, jadi total saya belanja sore itu Rp. 1.500.000,00

Sebelum memutuskan membeli Canon, saya sempat tergoda melihat penampilan dan harga dari Sony Cybershot S650. Dengan harga yang sama, Sony berani memberikan kamera 7.1 mpx dengan bentuk yang lebih mungil dan cantik. Namun menurut pengakuan dari sales Sony sendiri kalau kamera Sony seri S tidak bisa dibandingkan dengan Canon seri termurah sekalipun maka saya putuskan membuang keinginan membeli kamera Sony. Kamera Sony yang bisa menandingi Canon adalah yang seri W dan kamera Sony seri ini bisa dibawa pulang dengan harga diatas 3 jutaan. Cukup mahal bagi saya untuk sebuah kamera digital.

(more…)

Posted in Intermezzowith 23 Comments →

  • You Avatar
    Blog Ini Ditulis Oleh Seorang Dokter Yang Kebetulan Suka Pada Kemeriahan Dunia Blogger.