Mengenal Bakteri Sakazakii Yang Meresahkan02.16.11

Enterobacter sakazakii adalah bakteri yang termasuk ke dalam keluarga Enterobacteriaceae. Keluarga enterobacter merupakan bakteri yang sering ditemukan pada usus hewan, manusia dan lingkungan. Bakteri sakazakii dapat menyebabkan wabah radang otak/meningitis dan diare/enteritis khususnya pada bayi.

Pada beberapa kejadian wabah dilaporkan, sebanyak 20 – 50% bayi yang terinfeksi sakazakii meninggal dunia sedangkan sisanya mengalami gangguan saraf menetap. Pada orang dewasa, infeksi sakazakii hanya menimbulkan gekala yang sifatnya ringan dan mudah disembuhkan.

Habitat alami Enterobacter sakazakii masih belum bisa dipastikan. Bakteri ini sering ditemukan pada usus manusia yang sehat, hewan dan lingkungan.

Pada dasarnya, bakteri sakazakii mengkontaminasi susu formula melalui tiga cara, yaitu :

1. Bahan baku yang digunakan untuk membuat susu formula.

2. Kontaminasi oleh bahan bahan yang ditambahkan ke susu formula setelah dilakukan pasteurisasi.

3. Kontaminasi pada saat susu formula disajikan ke bayi oleh ibunya dan proses penyimpanan sisa susu formula yang tidak bagus.

Bakteri sakazakii juga ditemukan pada jenis makanan lain namun hanya pada susu formula yang dilaporkan dapat menimbulkan wabah.

Enterobacter sakazakii dapat menimbulkan penyakit pada semua kelompok umur. Pada beberapa kasus yang dilaporkan, bayi usia dibawah setahun adalah yang paling berisiko terutama yang berumur dibawah 28 hari. Bayi prematur, bayi dengan berat badan lahir rendah dan bayi yang mengalami gangguan sistem pertahanan tubuh juga memiliki risiko yang sama.

Para ahli mengharapkan ibu ibu yang memberikan bayinya susu formula untuk memahami fakta bahwa tidak ada satupun susu formula yang benar benar steril. Mereka diharapkan mampu menyajikan susu formula untuk bayinya dengan cara cara yang sesehat dan sebersih mungkin.

FAO/WHO Codex Alimentarius Commission telah memberikan standarisasi Internasional untuk produk makanan termasuk susu formula bayi. Mereka juga memberikan standar maksimal kandungan bakteri yang terdapat dalam susu formula termasuk untuk bakteri sakazakii. Jadi, secara internasional, adanya bakteri sakazakii pada susu formula masih diperbolehkan namun tidak boleh melebihi dari standar yang diberikan oleh WHO/FAO.

Sampai saat ini data mengenai kandungan bakteri sakazakii pada masing masing produk susu formula masih menjadi tanda tanya akibat tertutupnya industri susu dalam memberikan informasi.

Hal ini bisa dipahami mengapa pemerintah tidak berani mengumumkan susu yang ber-sakazakii sebab tidak menutup kemungkinan semua produk susu mengandung bakteri ini namun masih dalam batas yang diperbolehkan.

Tidak semua bakteri boleh ada pada susu formula. Bakteri salmonela yang pathogen misalnya. Bakteri salmonela tidak boleh ada satu pun dalam produk susu formula untuk bayi.

Fakta terkini menunjukan, tidak ada satupun bayi yang diberikan ASI ekslusif mengalami infeksi bakteri sakazakii. Jadi, agar bayi terhindari dari infeksi bakteri sakazakii, bayi harus diberikan ASI ekslusif selama enam bulan dan dilanjutkan sampai 2 tahun seperti rekomendasi WHO.

Posted in Info Kesehatanwith 1 Comment →

Akhirnya IPB Menyerah03.01.08

2302179664 C293898007 O

Polemik susu formula tercemar bakteri Enterobacter sakazakii akhirnya mencapai anti klimaks. Institut Pertanian Bogor (IPB) selaku badan yang menghembuskan kabar pertama kali akhirnya menyerah. Belum lagi daftar susu formula yang bermasalah diumumkan, pada press release terakhir bersama dengan BPOM, Depkes dan IDAI, mereka mengungkapkan bahwa susu yang mereka gunakan sebagai sampel penelitian sudah tidak beredar lagi di masyarakat.

Masih menurut mereka, susu yang mereka gunakan sebagai sampel sudah ditarik dari peredaran dan susu yang beredar saat ini di masyarakat aman untuk dikonsumsi. Pernyataan ini sekaligus membenarkan apa yang pernah dikatakan oleh Badan POM selaku otoritas pengawas obat dan makanan di Indonesia bahwa susu formula yang diteliti IPB sudah tidak beredar di masyarakat.

Apakah dengan penjelasan ini akan mampu menenangkan jutaan ibu yang terlanjur resah dan takut akan keselamatan bayi mereka sebagai pengkonsumsi susu formula? Lalu, apakah menyerahnya IPB ini akibat dari tekanan yang mereka terima? Apakah masyarakat akan mempercayai begitu saja apa yang dijelaskan oleh IPB, Depkes dan BPOM?

Susah untuk menjawab semua itu saat ini, kita harus menunggu polemik ini beberapa hari kedepan untuk melihat efeknya di masyarakat. Sebagai masyarakat kita hanya bisa berharap mudah mudahan pernyataan terbaru yang dikemukakan ini benar adanya sehingga kepanikan yang terjadi di masyarakat tidak terus berlanjut.

Kasus ini kembali membuka mata kita bersama bahwa jangan pernah main main dengan yang namanya kesehatan.

Posted in Editorialwith 38 Comments →

  • You Avatar
    Blog Ini Ditulis Oleh Seorang Dokter Yang Kebetulan Suka Pada Kemeriahan Dunia Blogger.
  • Arsip

  • Kategori

  • Berlangganan Artikel

    Tulis Email Anda


    Preview | Powered by FeedBlitz
  • Tulisan Terbaru

  • Konsultasi Online

  • Komunitas

    Bali
Blogger Community

    Internet Sehat

  • Pengunjung

    website statistics