Antibiotika

Kategori Info Kesehatan pada 10 Feb 2007

Antibiotik? Siapa Takut?
by Dr. Purnamawati SpAK MMPed

Mungkin begitulah kira2 pikiran kebanyakan pasien Indonesia ketika diberi
resep oleh dokternya ketika berobat…karena sudah seringnya diberi AB, kita
langsung aja meminumnya tanpa mempertanyakan dahulu apakah benar kita perlu
AB? Lalu kapan sih kita perlu dan kapan tidak? Summary ini membahas dengan
singkat apa itu AB dan beberapa topik yang berhubungan…..

Apa itu AB?
AB ditemukan oleh Alexander Flemming pada tahun 1929 dan digunakan untuk
membunuh bakteri secara langsung atau melemahkan bakteri sehingga kemudian
dapat dibunuh dengan sistem kekebalan tubuh kita. AB ada yang merupakan
1. produk alami, 2. semi sintetik, berasal dari alam dibuat dengan beberapa
perubahan agar lebih kuat, mengurangi efek samping atau untuk memperluas
jenis bakteri yang dapat dibunuh, 3. full sintetik.

Jenis AB:
1. Narrow spectrum, berguna untuk membunuh jenis2 bakteri secara spesifik.
Mungkin kalau di militer bisa disamakan dengan sniper, menembak 1 target
dengan tepat. AB yang tergolong narrow spectrum adalah ampicillin dan
amoxycilin (augmentin, surpas, bactrim, septrim).
2. Broad spectrum, membunuh semua jenis bakteri didalam tubuh, atau bisa
disamakan dengan bom nuklir. Dianjurkan untuk menghindari mengkonsumsi AB
jenis ini, karena more toxic dan juga membunuh jenis bakteri lainnya yang
sangat berguna untuk tubuh kita. AB yang termasuk kategori ini adalah
cephalosporin (cefspan, cefat, keflex, velosef, duricef, etc.).

Bakteri
Bakteri berdasarkan sifat fisiknya dapat dibagi menjadi dua, yaitu gram
positif (+) dan gram negatif (-). Infeksi dibagian atas difragma (dada)
umumnya disebabkan oleh bakteri gram (+) sedangkan infeksi dibagian bawah
difragma disebabkan oleh bakteri gram (-). Biasanya, infeksi yang disebabkan
oleh gram (+) lebih mudah dilawan. Didalam tubuh kita banyak sekali terdapat
bakteri, bahkan salah satu kandungan ASI adalah bakteri. Jadi, sebenarnya,
kebanyakan bakteri tidaklah “jahat”. Manfaat bakteri diusus kita adalah:
1. bakteri mengubah apa yang kita makan menjadi nutrisi yang dibutuhkan oleh
tubuh.
2. memproduksi vitamin B & K.
3. memperbaiki sel dinding usus yang tua dan sudah rusak.
4. merangsang gerak usus sehingga kita tidak mudah muntah (konstipasi).
5. menghambat berkembang biaknya bakteri jahat dan secara tidak langsung
mencegah tubuh kita agar tidak terinfeksi bakteri jahat.

Sekarang kita tahu manfaatnya, jadi jangan lagi minum AB tanpa alasan yang
jelas, karena hal ini akan membunuh bakteri yang baik tersebut.

Virus
Walaupun sesama mikro-organisme, virus ukurannya jauh lebih kecil
dibandingkan dengan bakteri. Mereka berkembang biak dengan mengunakan sel
tubuh kita, jadi virus akan mati bila berada diluar tubuh. Catatan penting:
virus tidak dapat dibunuh oleh obat dan AB sama sekali tidak bekerja
terhadap virus. Virus hanya bisa dibasmi oleh sistem imun atau daya tahan
tubuh kita, salah satunya adalah dengan demam. Demam merupakan bagian dari
sistem daya tahan tubuh yang bermanfaat untuk membasmi virus, karena virus
tidak tahan dengan suhu tubuh yang tinggi. Jadi apabila anak/anda mengalami
demam, sebaiknya tidak diobati apabila suhu tubuhnya tidak terlalu tinggi.

When AB doesn’t work?
Menurut penelitian, ada 3 kondisi yang umumnya diterapi dengan AB, yaitu
1. Demam, 2. Radang tenggorokan, 3. Diare.
Padahal, sebenarnya, penggunaan AB untuk kondisi diatas tidaklah tepat dan
tidak berguna. Dibawah ini petunjuk kapan AB tidak bekerja:
1. Colds & Flu
2. Batuk atau bronchitis
3. Radang tenggorokan
4. Infeksi telinga. Tidak semua infeksi telinga membutuhkan AB.
5. Sinusitis. Pada umumnya tidak membutuhkan AB.

Penggunaan AB tidak pada tempatnya dan berlebihan tidak akan menguntungkan,
bahkan merugikan dan membahayakan.

When do we need AB?
Dibawah merupakan beberapa jenis infeksi bakteri yang umumnya terjadi dan
membutuhkan terapi AB:
1. Infeksi saluran kemih
2. Sebagian infeksi telinga tengah atau biasa disebut otitis media
3. Sinusitis yang berat (berlangsung lebih dari minggu, sakit kepala,
pembengkakan di daerah wajah)
4. Radang tenggorokan karena infeksi kuman streptokokus (umumnya menyerang
anak berusia 7 tahun atau lebih sedangkan pada anak usia 4 tahun hanya 15%
yang mengalami radang tenggorokan karena kuman ini)

How do I know this is bacterial infection?
Untuk mengetahui apakah ada infeksi bakteri biasanya dengan melakukan kultur
yang membutuhkan beberapa hari untuk observasi. Contohnya apabila dicurigai
adanya infeksi saluran kemih, lab. mengambil sample urin dan kemudian
dikultur, setelah beberapa hari akan ketahuan bila ada infeksi bakteri
berikut jenisnya.

Efek Negatif AB
Dibawah adalah efek samping yang dialami pemakai apabila mengkonsumsi AB;
1. Gangguan saluran cerna (diare, mual, muntah, mulas) merupakan efek
samping yang paling sering terjadi.
2. Reaksi alergi. Mulai dari yang ringan seperti ruam, gatal sampai dengan
yang berat seperti pembengkakan bibir/kelopak mata, gangguan nafas, dll.
3. Demam (drug fever). AB yang dapat menimbulkan demam bactrim, septrim,
sefalsporoin & eritromisin.
4. Gangguan darah. Beberapa AB dapat mengganggu sumsum tulang, salah satunya
kloramfenikol.
5. Kelainan hati. AB yang paling sering menimbulkan efek ini adalah obat TB
seperti INH, rifampisin dan PZA (pirazinamid).
6. Gangguan fungsi ginjal. Golongan AB yang bisa menimbulkan efek ini adalah
aminoglycoside (garamycine, gentamycin intravena), Imipenem/Meropenem dan
golongan Ciprofloxacin. Bagi penderita penyakit ginjal, harus hati2
mengkonsumsi AB.

Pemakaian AB tidak pada tempatnya dan berlebihan (irrational) juga dapat
menimbulkan efek negatif yang lebih luas (long term), yaitu terhadap kita
dan lingkungan sekitar, contohnya:

1. Irrational use ini juga dapat membunuh kuman yang baik dan berguna yang
ada didalam tubuh kita. Sehingga tempat yang semula ditempati oleh bakteri
baik ini akan diisi oleh bakteri jahat atau oleh jamur. Kondisi ini disebut
juga sebagai “superinfection”.

2. Pemberian AB yang berlebihan akan menyebabkan bakteri2 yang tidak
terbunuh mengalami mutasi dan menjadi kuman yang resistance terhadap AB,
biasa disebut SUPERBUGS. Jadi jenis bakteri yang awalnya dapat diobati
dengan mudah dengan AB yang ringan, apabila ABnya digunakan dengan
irrational, maka bakteri tersebut mutasi dan menjadi kebal, sehingga
memerlukan jenis AB yang lebih kuat. Bayangkan apabila bakteri ini menyebar
ke lingkungan sekitar. Lama kelamaan, apabila pemakaian AB yang irrational
ini terus berlanjut, maka suatu saat akan tercipta kondisi dimana tidak ada
lagi jenis AB yang dapat membunuh bakteri yang terus menerus bermutasi ini.
Hal ini akan membuat kita kembali ke zaman sebelum AB ditemukan, dimana
infeksi yang diakibatkan oleh bakteri ini tidak dapat diobati sehingga angka
kematian akan drastis melonjak naik.

Note: Semakin sering mengkonsumsi AB, semakin sering kita sakit. The less
you consume AB, the less frequent you get sick.

Inappropriate AB Use
Berjuta2 resep ditulis yang mencantumkan AB untuk infeksi virus, padahal
kita semua tahu AB tidak berguna untuk memerangi virus. Ada 3 alasan mengapa
apparopriate use of AB ini terjadi, yaitu:
1. Diagnostic uncertainty.
2. Time pressure.
3. Patient Demand.”People don’t want to miss work or they have a sick child
who kept the family up all night and they’re willing to try anyhing that
might work”. It’s easier for the physician to give AB than to explain why it
might be better not to use it.

Benar, seringkali kitapun sebagai pasien juga berperan didalam AB irrational
use ini. Sudah terbentuk persepsi didalam pasien Indonesia, dimana kita
beranggapan bahwa kalau pulang dari kunjungan dokter itu harus membawa resep
Malah akan aneh kalau kita tidak pulang dengan membawa resep. Hal ini
justru mendorong dokter untuk meresepkan AB ketika tidak diperlukan.
Sebaiknya sikap ini sedikit demi sedikit kita hilangkan.

How Can We Help?
1. Rubah sikap kita ketika berkunjung ke dokter dengan menanyakan; Apa
penyebab penyakitnya? bukan apa obatnya.
2. Jangan sedikit2 minta dokter untuk meresepkan AB. Jangan mengkonsumsi AB
untuk infeksi virus seperti flu/pilek, batuk atau radang tenggorokan. Kalau
merasa tidak nyaman akibat infeksi tsb. tanya dokter bagaimana cara
meringankan gejalanya, tetapi tidak dengan AB.
3. Tidak mempergunakan Desinfektan dirumah, cukup dengan air dan sabun.
Hanya diperlukan bila di rumah ada orang sakit dengan daya tahan tubuh
rendah (pasca transplantasi, anak penyakit kronis, pemakaian steroid jangka
panjang, dll.).

Battle of the Bugs: Fighting AB Resistance
Masalah bakteri yang kebal terhadap AB (AB resistance) ini telah menjadi
masalah global dan sudah sejak beberapa dekade terakhir dunia kedokteran
mencanangkan perang terhadap AB resistance ini.

Ada petunjuk yang dapat dilakukan untuk perihal pemakaian AB yang rasional,
yaitu:
1. Kurangi pemakaian AB, jangan menggunakan AB untuk infeksi virus.
2. Gunakan AB hanya bila benar2 diperlukan dan mulailah dengan AB yang
ringan atau narrow spectrum.
3. Untuk infeksi yang ringan (infeksi saluran nafas, telinga atau sinus)
yang memang perlu AB, gunakan AB yang bekerja terhadap bakteri gram (+).
4. Untuk infeksi kuman yang berat (infeksi dibawah diafrgma, seperti infeksi
ginjal/saluran kemih, apendisitis, tifus, prneumonia, meningitis bakteri)
pilih AB yang juga membunuh kuman gram (+).
5. Hindari pemakaian lebih dari satu AB, kecuali TBC atau infeksi berat di
rumah sakit.
6. Hindarkan pemakaian salep AB, kecuali untuk infeksi mata.

Rule for Thumb
Bila anda memperoleh terapi AB, pertanyakanlah hal2 berikut:
1. Why do I need AB?
2. Apa yang dilakukan AB?
3. Apa efek sampingnya?
4. Apa yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya efek samping?
5. Apakah AB harus diminum pada waktu tertentu, misalnya sebelum atau
sesudah makan?
6. Bagaimana bila AB ini dimakan bersamaan dengan obat yang lain?
7. Beritahu pula bila anda mempunyai alergi terhadap suatu obat atau makanan
dll.

Final Message
Sebagai konsumen kesehatan yang bertanggung jawab, sebaiknya kita juga
berperan aktif dengan cara menggali dan mempelajari pengetahuan dasar ilmu
kesehatan. Dengan begitu kita akan menjadi konsumen kesehatan yang smart and
critical. So, semoga tulisan ini dapat menambah pengetahuan dasar ilmu
kesehatan para pembaca.

Tulisan ini dibuat bukan untuk menentang pemakaian AB. Sebaliknya kita harus
mengetahui bagaimana pemakaian AB yang benar dan tepat karena justru AB yang
irrational akan menyebabkan AB menjadi impotent atau kehilangan manfaatnya.
Antibiotics save lives, therefore we also have to save Antibiotics.

Belum ada komentar yang spesial.
Baca Juga :

Trackback URI | RSS Komentar

5 Komentar untuk “ Antibiotika ”

  1. #1 indah Berkomentar :

    makasih buat penjelasan BAkteri dan antibiotiknya.
    tolong disertakan juga klasifikasi bakteri-bakteri yang masuk dalam gram positif dan gram negatif.
    terimakasih….tolong yaaa

  2. #2 I Made Cock Wirawan Berkomentar :

    kalo mau tahu lebih banyak tentang bakteri, bisa dibaca disini mbak, http://id.wikipedia.org/wiki/Bakteri

  3. #3 gagahput3ra Berkomentar :

    salam kenal mbak….lagi nyari2 info mengenai Surpas, tahu2 nyampe ke tips penggunaan antibiotik…hehehe tapi berguna banget nih soalnya saya setiap ke dokter pasti dikasi antibiotik walau sakitnya cuma flu ringan. Pemerintah dodol sih

    #koq banyak yang mengira saya perempuan ya?…apa blog ini terlalu feminim?…saya laki laki tulen mas…;)#

  4. #4 Rita Berkomentar :

    Mau nanya nih pemakaian amoxycilin 500mg karena infeksi saluran kencing pada ibu yang hamil 3 bulan apakah berefek negatif ya ?
    Thanks

    #amoxicillin merupakan antibiotika paling aman untuk ibu hamil#

  5. #5 ardi Berkomentar :

    salam kenal dok. langsung aja; sy punya masalah dng bau mulut ± 1thn, sy sdh periksakan ke tht gigi dan tenggorokan sy ga ada masalah kata dokt.nya, tpi klo menurut sy masalahnya ada di tenggorokan,karena sy pernah merogoh dengan jari sy ke pangkal tenggoroksn wah2x baunya semaput. sy sering cari info di blOg2x kesehatan, ktnya ada bakteri di tenggorokan sy. nah pertanyaannya obat antibiotik apa yg manjur dan tdk berbahaya untuk menghilangkan bakteri ini dok. thanks

Leave a Reply


  • You Avatar
  • Pencarian Kustom