Hipertensi Pada Anak

hipertensi pada anak
Hipertensi pada anak

Hipertensi pada anak dan remaja merupakan masalah kesehatan yang bermakna, bukan saja karena prevalensinya yang meningkat namun morbiditas dan mortalitas yang diakibatkannya juga makin substansial. Sebuah penelitian di Amerika Serikat pada 5102 anak sekolah mendapatkan prevalensi hipertensi sebesar 4,5%.

Baca juga: Kesehatan Mulut Berhubungan Dengan Hipertensi, Baik Atau Buruk?

Peningkatan prevalensi hipertensi pada anak dan remaja dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain peningkatan insidens obesitas pada anak dan perubahan gaya hidup, seperti anak kurang beraktivitas, asupan makanan yang tinggi kalori, tinggi natrium dan rendah kalium, serta minuman yang mengandung alkohol dan kafein, kebiasaan merokok, stres mental, dan kurang tidur.

Mohon dukungannya agar blog ini tetap update (seikhlasnya) https://trakteer.id/blogdokter/tip


Memuat…


Telah banyak penelitian yang dilakukan memberikan pemahaman akan patogenesis hipertensi yang lebih baik, peningkatan penggunaan alat diagnostik, dan pengobatan medikamentosa bagi anak dan remaja dengan hipertensi.3 Walaupun kegawatan dalam hipertensi pada anak tidak sering terjadi, namun pengenalan dini dan intervensi segera pada kegawatan ini dapat mengurangi morbiditas dan mortalitas, apalagi mengingat sebagian besar penyebab krisis hipertensi dapat diatasi.

Definisi dan Klasifikasi Hipertensi pada Anak

Tekanan darah seorang anak dipengaruhi oleh usia, jenis kelamin, dan massa tubuh. Pada tahun 2004, the Fourth Task Force of the National High Blood Pressure Education Program (NHBPEP) Working Group mempublikasikan sebuah rekomendasi mengenai diagnosis, evaluasi, dan tata laksana hipertensi pada anak dan remaja. Rekomendasi tersebut digunakan untuk menentukan batasan tekanan darah normal dan hipertensi pada anak berusia 1-17 tahun, sesuai dengan usia, jenis kelamin, persentil tinggi badan.

Di bawah ini adalah definisi/batasan hipertensi pada anak:

  1. Normotensi: rerata tekanan darah sistolik atau diastolik berada di bawah persentil 90.
  2. Pra-hipertensi (prehypertension): rerata tekanan darah sistolik atau diastolik berada di antara persentil 90 sampai persentil 95, atau tekanan darah >120/80 mmHg untuk remaja.
  3. Hipertensi stadium I: rerata tekanan darah sistolik atau diastolik berada di antara persentil 95 dan persentil 99 + 5 mmHg
  4. Hipertensi stadium II: rerata tekanan darah sistolik atau diastolik berada di atas persentil 99 + 5 mmHg
  5. Krisis hipertensi: peningkatan mendadak tekanan darah sistolik dan atau diastolik 50% atau lebih dari normal, atau bagi anak berusia >6 tahun tekanan darah > 180/120 mmHg, atau tekanan darah lebih rendah dari batas-batas tersebut namun disertai dengan kerusakan target organ, seperti gagal ginjal, retinopati, gagal jantung, dan otak. Manifestasi kerusakan target organ yang akut adalah: ensefalopati, infark miokard akut, diseksi aorta akut, acute cerebral vascular accident, acute kidney injury, dan gagal jantung.
  6. Hipertensi emergensi: hipertensi krisis yang disertai dengan keadaan yang mengancam jiwa yang menunjukkan telah terjadi kerusakan organ target yang akut (jantung, mata, ginjal, dan otak).
  7. Hipertensi urgensi adalah hipertensi krisis dengan gejala yang lebih ringan seperti sakit kepala, mual, dan muntah. Hipertensi urgensi berpotensi menjadi hipertensi emergensi.
  8. White-coat hypertension adalah tekanan darah yang melebihi persentil 95 pada pengukuran di klinik namun normotensi pada pengukuran di luar klinik.

Apabila pada pengukuran tekanan darah seorang anak didapatkan hipertensi tanpa gejala atau keluhan, maka konfirmasi keadaan hipertensi tersebut dinyatakan dengan pengukuran tekanan darah berturut-tururt sebanyak 3 kali di klinik dengan interval satu minggu.

Etiologi/Penyebab

Etiologi hipertensi pada anak dapat dibagi menjadi hipertensi primer (hipertensi esensial) dan hipertensi sekunder. Hipertensi sekunder terbanyak disebabkan oleh hipertensi renal, yang dapat disebabkan oleh berbagai penyakit ginjal kongenital, herediter, maupun didapat. Penyebab tersering adalah penyakit parenkim ginjal (renoparenkim), seperti nefropati refluks dan glomerulonefritis kronik. Kelainan renovaskular merupakan penyebab pada 10% hipertensi sekunder pada anak.

Etiologi hipertensi sekunder dapat dirinci lebih lanjut seperti terlihat pada Tabel 1. Hipertensi juga dapat merupakan bagian dari sindrom metabolik yang terdiri atas obesitas, hiperkolesterolemia, hiperglikemia, dan hipertensi. Etiologi hipertensi dapat pula dikelompokkan berdasarkan usia, seperti tampak pada Tabel 2.

hipertensi pada anak
Etiologi hipertensi sekunder
Hipertensi pada anak
Etiologi hipertensi berdasarkan kelompok umur
Gejala Klinis

Manifestasi klinis hipertensi pada anak sangat bervariasi. Penyakit yang mendasari hipertensi tersebut juga memberikan gejala dan tanda. Pada bayi baru lahir, hipertensi dapat memberikan gejala distres pernapasan, berkeringat, iritabel, pucat/sianosis, failure to thrive, gambaran klinis menyerupai sepsis, gagal jantung, apnu, muntah, dan kejang. Pada anak yang lebih besar, gejala dan tanda berikut ini perlu dipikirkan kemungkinan hipertensi: rasa lelah, ensefalopati, sakit kepala, terdengar murmur jantung, ketajaman penglihatan berkurang mendadak, anoreksia, mual, epistaksis, facial palsy, kenaikan berat badan yang tidak adekuat, polidipsia, poliuria, enuresis, nyeri abdomen, hematuria, dan perawakan pendek.

Pemeriksaan

Setiap keadaan hipertensi pada anak, baik ringan, sedang, maupun berat, bersifat sementara ataupun persisten, yang akut maupun kronik, memerlukan evaluasi lebih lanjut. Evaluasi tersebut ditujukan untuk mendeteksi kerusakan organ target, meliputi jantung, pembuluh darah besar, ginjal, susunan saraf pusat, dan retina. Bila telah ada keterlibatan organ-organ tersebut berarti telah terdapat penyakit vaskular yang akan merupakan proses berkesinambungan, dari masa anak hingga masa dewasa.

Pemeriksaan keterlibatan organ-organ target tersebut juga diperlukan untuk mengevaluasi apakah tata laksana hipertensi pada anak tersebut telah adekuat dan mempunyai efek proteksi terhadap kerusakan organ target. Pemeriksaan tersebut meliputi pengukuran massa ventrikel kiri dengan ekokardiografi, pengukuran ketebalan tunika intima dan media pembuluh darah besar, pemeriksaan fungsi ginjal dan ekskresi albumin dalam urin, serta funduskopi.

Pada anamnesis perlu digali keluhan mengenai nyeri kepala, gangguan penglihatan, mimisan, palpitasi, pucat, flushing, nyeri sendi, rash kulit,
hematuria, edema, perubahan berat badan, dan lain-lain. Riwayat berat lahir rendah dapat merupakan petunjuk diagnosis hipertensi esensial pada remaja, sedang riwayat kateterisasi arteri umbilikalis pada saat neonatus dapat menimbulkan trombosis atau emboli yang menyokong etiologi hipertensi pada bayi. Anamnesis mengenai asupan nutrisi dan kebiasaan mengkonsumsi soft drink, obat-obatan dan zat adiktif, serta herbal, perlu dielaborasi lebih lanjut.

Pada pemeriksaan fisis perlu dicari tanda khusus kelainan genetik, seperti cafeau-lait, neurofibromatosis, tanda Cushing, genitalia ambigus, juga pemeriksaan neurologis, bruit di abdomen, pulsasi nadi di radius maupun femoral, di samping pemeriksaan fisis secara umum. Pemeriksaan laboratorium penunjang dimulai dengan tahap skrining yang meliputi pemeriksaan darah tepi lengkap, urinalisis, ureum, kreatinin, dan USG ginjal, kemudian dilanjutkan dengan pemeriksaan spesifik yang sesuai dengan dugaan etiologi hipertensi.

Pengobatan

Tata laksana hipertensi secara garis besar dapat dibagi dua, terapi non farmakologik dan terapi farmakologik.

Terapi non farmakologik, antara lain menanggulangi gizi lebih dan obesitas, memanipulasi gaya hidup dengan mengurangi asupan energi, memperbanyak aktivitas (misalnya dengan aktivitas fisik setingkat aerobik sedang selama 40 menit, dilakukan 3-5 kali dalam seminggu), mengobati faktor risiko (hiperlipidemia, diabetes mellitus).

Sebuah penelitian meta-analisis menunjukkan bahwa mengurangi asupan garam dapat menurunkan tekanan sistolik dan diastolik. Jenis diet yang dianjurkan adalah diet yang rendah lemak, garam dan natrium, serta gula, yaitu diet yang banyak mengandung buah dan sayur, susu atau produknya yang rendah atau bebas lemak, whole grains, ikan, unggas, kacang-kacangan dan biji-bijian, dan menghindari daging merah. Terapi non farmakologik berupa penurunan berat badan, memperbanyak aktivitas, dan diet, telah terbukti dapat menurunkan tekanan darah pada hipertensi primer dan hipertensi terkait obesitas.

Baca juga: Manfaat Buah Sirsak Untuk Penyakit Hipertensi, Kolesterol Dan Asam Urat

Terapi medikamentosa diberikan pada anak dengan hipertensi yang memenuhi kriteria berikut: hipertensi simtomatik, hipertensi sekunder,
hipertensi dengan kerusakan target organ (misalnya telah terjadi gangguan fungsi ginjal, atau hipertrofi ventrikel kiri, atau peningkatan ekskresi albumin di urin), hipertensi pada diabetes mellitus, dan hipertensi yang menetap dengan terapi non farmakologik. Penggunaan antihipertensi pada anak perlu perhatian khusus karena isu keamanan dan efektifitas obat tersebut. Beberapa hal yang mendasari isu tersebut adalah antara lain, langkanya penelitian uji klinis pada anak (karena kejadian hipertensi pada anak relatif rendah), efek jangka lama obat terhadap proses tumbuh kembang anak belum banyak diteliti.

Obat antihipertensi yang telah direkomendasikan oleh FDAMA (Food and Drug Administration Modernizaton Act) Amerika Serikat adalah
captopril, chlorothiazide, diazoxide, furosemide, hydralazine, hydrochlorothiazide, methyldopa, minoxidil, propranolol, spironolactone, amlodipine, benazepril, enalapril, eplerenone, fenoldopam, fosinopril, irbesartan, losartan, lisinopril, metoprolol, dan valsartan.

Pada hipertensi emergensi penurunan tekanan darah perlu dilakukan secara agresif dengan target penurunan sebesar 25% dalam 8 jam pertama, kemudian secara berangsur penurunan tekanan darah sampai normal dalam 48 jam berikut. Obat-obat antihipertensi yang bekerja sentral, seperti alfa metal dopa dan klonidin, umumnya tidak dianjurkan pada hipertensi ensefalopati, karena dapat memberikan efek samping pada susunan saraf pusat.

Hipertensi pada anak adalah tekanan darah sistolik dan atau diastolik berada > persentil 95 tekanan darah anak berdasarkan usia, jenis kelamin dan presentil tinggi badan. Kegawatan pada hipertensi pada anak (krisis hipertensi) terjadi bila peningkatan tekanan darah berlangsung mendadak sehingga menimbulkan keterlibatan organ target seperti ensefalopati, infark miokard akut, diseksi aorta akut, acute cerebral vascular accident, acute kidney injury, dan gagal jantung kiri akut.

Sebagian besar etiologi hipertensi pada anak adalah hipertensi sekunder, terbanyak disebabkan oleh penyakit renoparenkim. Pada hipertensi emergensi penurunan tekanan darah dilakukan agresif dengan target penurunan \ tekanan darah lebih dari 25% dalam 8 jam pertama, sedang pendekatan terapi pada anak hipertensi yang tidak menunjukkan gejala klinis dapat dilakukan dengan bertahap. Pada krisis hipertensi segera setelah fase akut tertangani, dilakukan evaluasi lebih lanjut untuk mencari penyakit yang mendasarinya.

Mohon dukungannya agar blog ini tetap update (seikhlasnya) https://trakteer.id/blogdokter/tip

Bisa klik logo di bawah ini juga:

Nih buat jajan