Keracunan Makanan

keracunan makanan
Keracunan Makanan 2

Keracunan makanan merupakan suatu kondisi gangguan pencernaan yang disebabkan oleh konsumsi makanan atau air yang terkontaminasi dengan zat berbahaya dan atau bahan kimia, misalnya Norovirus, Salmonella, Clostridium perfringens, Campylobacter, dan Staphylococcus aureus.

Baca juga: Ini Bukti Eratnya Hubungan Makanan Olahan Jadi Dengan Kanker

Faktor risiko terjadinya keracunan makanan

Berikut beberapa faktor risiko yang menyebabkan seseorang mengalami keracunan makanan

Mohon dukungannya agar blog ini tetap update (seikhlasnya) https://trakteer.id/blogdokter/tip


Memuat…


  • Riwayat makan/minum di tempat yang tidak higienis
  • Konsumsi daging/unggas yang kurang matang. Hal ini bisa disebabkan karena terjadinya infeksi Salmonella spp, Campylobacter spp, toksin Shiga E coli, dan Clostridium perfringens.
  • Konsumsi makanan laut mentah. Hal ini bisa disebabkan karena terjadinya infeksi Norwalk-like virus,Vibrio spp, atau hepatitis A.
Tanda dan gejala keracunan makanan

Penderita keracunan makanan dapat mengalami:

  • Diare akut. Pada keracunan makanan biasanya berlangsung kurang dari 2 minggu.
  • Darah atau lendir pada tinja; menunjukkan invasi mukosa usus atau kolon (usus besar).
  • Nyeri perut.
  • Nyeri kram otot perut; menunjukkan hilangnya elektrolit yang mendasari, seperti pada kolera yang berat.
  • Kembung.

Selain berdasarkan keluhan diatas, pada penderita keracunan makanan, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik guna mengindentifikasi adanya tanda tanda dehidrasi yang disebabkan oleh diare. Pemeriksaan penunjang kadang dibutuhkan untuk mengetahui jenis kuman penyebab terjadinya keracunan makanan.

Baca juga: Benarkah Makanan Pedas Dapat Merusak Lidah?

Pengobatan keracunan makanan

Karena sebagian besar kasus gastroenteritis akut adalah self-limiting, pengobatan khusus tidak diperlukan. Dari beberapa studi didapatkan bahwa hanya 10% kasus membutuhkan terapi antibiotik. Tujuan utamanya adalah rehidrasi yang cukup dan suplemen elektrolit. Hal ini
dapat dicapai dengan pemberian cairan rehidrasi oral (oralit) atau larutan intravena (misalnya, larutan natrium klorida isotonik, larutan Ringer Laktat). Rehidrasi oral dicapai dengan pemberian cairan yang mengandung natrium dan glukosa. Obat absorben (misalnya, kaopectate, aluminium hidroksida) membantu memadatkan feses diberikan bila diare tidak segera berhenti. Diphenoxylate dengan atropin (Lomotil) tersedia dalam tablet (2,5 mg diphenoxylate) dan cair (2,5 mg diphenoxylate / 5 mL). Dosis awal untuk orang dewasa adalah 2 tablet 4 kali sehari (20 mg / d). Digunakan hanya bila diare masif.

Jika gejalanya menetap setelah 3-4 hari, etiologi spesifik harus ditentukan dengan melakukan kultur tinja. Untuk itu harus segera dirujuk.

Modifikasi gaya hidup dan edukasi untuk menjaga kebersihan diri. Dengan pengobatan yang cepat dan tepat, pasien umumnya bisa sembuh dengan baik.

Mohon dukungannya agar blog ini tetap update (seikhlasnya) https://trakteer.id/blogdokter/tip

Bisa klik logo di bawah ini juga:

Nih buat jajan