Tentang Monkeypox Yang Wajib Dibaca

Monkeypox
Tentang Monkeypox Yang Wajib Dibaca 2

Monkeypox merupakan emerging zoonosis yang disebabkan virus Monkeypox (anggota genus Orthopoxvirus dalam keluarga Poxviridae). Penyakit ini memiliki gejala sangat mirip dengan kasus smallpox yang pernah dieradikasi tahun 1980. Walaupun gejalanya lebih ringan daripada smallpox, namun monkeypox menyebar secara sporadis di beberapa wilayah di Afrika, terutama di Afrika Tengah dan Barat. Penularan kepada manusia terjadi melalui kontak langsung dengan orang ataupun hewan yang terinfeksi, atau melalui benda yang terkontaminasi oleh virus tersebut. Penyakit ini dapat bersifat ringan dengan gejala yang berlangsung 2 – 4 minggu, namun bisa berkembang menjadi berat dan bahkan kematian (tingkat kematian 3 – 6 %).

Baca juga: Tips Berhubungan Seks Bagi Penderita Monkeypox

Monkeypox pertama kali ditemukan tahun 1958 di Denmark ketika ada dua kasus seperti cacar pada koloni kera yang dipelihara untuk penelitian, sehingga cacar ini dinamakan ‘monkeypox. Monkeypox pada manusia pertama kali ditemukan di Republik Demokratik Kongo (Zaire/DRC) tahun 1970. Sejak saat itu, kasus monkeypox pada manusia sering terjadi dan endemis di pedesaan, wilayah hutan tropis Congo Basin dan Afrika Barat. Hingga saat ini negara yang dinyatakan sebagai negara endemis monkeypox, yaitu Benin, Kamerun, Republik Afrika Tengah, Republik Demokratik Kongo, Gabon, Ghana, Pantai Gading, Liberia, Nigeria, Republik Kongo, dan Sierra Leone. Kasus monkeypox telah dilaporkan dari negara luar Afrika terkait dengan perjalanan internasional atau hewan impor yaitu di Amerika Serikat, Israel,
Singapura, dan Inggris.

Mohon dukungannya agar blog ini tetap update (seikhlasnya) Donasi


Memuat…


Sejak Mei 2022, Monkeypox menjadi penyakit yang menjadi perhatian kesehatan masyarakat global, karena dilaporkan dari negara non endemis. Sejak tanggal 13 Mei 2022, WHO telah menerima laporan kasus-kasus Monkeypox yang berasal dari negara non endemis, dan saat ini telah meluas ke 4 regional WHO yaitu regional Eropa, Amerika, Eastern Mediterranean, dan Western Pacific. Negara non endemis yang telah melaporkan kasus meliputi Australia, Belgia, Kanada, Perancis, Finlandia, Denmark, Ceko, Austia, Jerman, Italia, Belanda, Portugal, Spanyol, Swedia, Inggris, Swiss, Slovenia, Israel, Sudan, Uni Emirat Arab, Kanada, Argentina Guina, dan Amerika Serikat (WHO
per tanggal 29 Mei 2022). Berdasarkan laporan WHO per 29 Mei 2022, sebagian besar kasus dilaporkan dari pasien tidak memiliki riwayat perjalanan ke negara-negara endemis. WHO memperkirakan akan lebih banyak kasus monkeypox yang teridentifikasi seiring peningkatan monitoring di negara-negara non endemis.

Hingga saat ini masih dilakukan investigasi dan studi lebih lanjut untuk lebih memahami epidemiologi, sumber infeksi, pola penularan di negara non endemis yang melaporkan kasus. Namun adanya laporan penularan antar manusia di negara non endemis tersebut, kemungkinan importasi kasus dari negara terjangkit dan kemungkinan keberadaaan hewan penular di Indonesia, maka dipandang perlu bagi Indonesia sebagai negara non endemis untuk melakukan kesiapsiagaan terhadap penyakit monkeypox dengan mempertimbangkan situasi saat ini. Berbagai upaya perlu dipersiapkan dengan lingkup surveilans, manajemen klinis, pemeriksaan laboratorium, komunikasi risiko, dan pemberdayaan masyarakat. Oleh karena itu dalam rangka mencegah dan mengendalikan penyakit monkeypox yang adekuat, perlu disusun suatu pedoman yang menjadi acuan bagi petugas kesehatan.

Penyebab Monkeypox

Penyebab penyakit monkeypox adalah virus Monkeypox (MPXV) yang tergolong dalam genus Orthopoxvirus dalam famili Poxviridae. Genus Orthopoxvirus juga termasuk virus Variola (penyebab smallpox), virus Vaccinia dan virus cowpox. Virus Monkeypox mengandung DNA rantai ganda dan memiliki selubung berbentuk bata dengan ukuran 200-250 nm.

Infeksi Monkeypox di Afrika, telah ditemukan pada banyak spesies hewan: tupai pohon, Gambian giant rat, tikus bergaris, dormice dan primata. Studi lebih lanjut diperlukan untuk mengidentifikasi reservoir yang tepat dari virus Monkeypox dan bagaimana virus tetap bertahan di alam. Pada kasus yang terjadi di Amerika Serikat, kasus pertama tertular dari prairie dog (hewan eksotis jenis rodent yang dipelihara), yang diduga terinfeksi virus Monkeypox tikus yang berasal dari Afrika.

Penularan Monkeypox

Penularan kepada manusia terjadi melalui kontak langsung dengan hewan ataupun manusia yang terinfeksi, atau melalui benda yang terkontaminasi oleh virus tersebut. Virus masuk ke dalam tubuh melalui kulit yang luka/terbuka (walaupun tidak terlihat), saluran pernapasan, atau selaput lendir (mata, hidung, atau mulut). Di negara endemis, monkeypox kemungkinan bersirkulasi antara hewan mamalia, dengan sesekali menyebar ke manusia. Di negara endemis, penularan ke manusia dapat terjadi melalui gigitan atau cakaran, mengolah daging hewan liar, kontak langsung dengan cairan tubuh atau bahan lesi, atau kontak tidak langsung dengan bahan lesi, seperti melalui benda yang terkontaminasi.

Monkeypox antar manusia tidak secara mudah menular. Penularan dari manusia ke manusia dapat melalui kontak erat dengan droplet, cairan tubuh atau lesi kulit orang yang terinfeksi, atau kontak tidak langsung pada benda yang terkontaminasi. Penularan melalui droplet biasanya membutuhkan kontak yang lama, sehingga anggota keluarga yang tinggal serumah atau kontak erat dengan kasus berisiko lebih besar untuk tertular. Orang dengan monkeypox menular ketika bergejala (biasanya antara dua sampai empat minggu). Ruam, cairan tubuh (seperti cairan, nanah atau darah dari lesi kulit) dan koreng sangat menular. Pakaian, tempat tidur, handuk atau peralatan makan/piring yang telah terkontaminasi virus dari orang yang terinfeksi juga dapat menulari orang lain.

Monkeypox dapat menyebar melalui kontak langsung kulit ke kulit saat berhubungan seks, termasuk ciuman, sentuhan, seks oral dan penetrasi dengan seseorang yang memiliki gejala. Ruam kadang-kadang ditemukan pada alat kelamin dan mulut, yang kemungkinan berkontribusi terhadap penularan selama kontak seksual. Kontak mulut ke kulit dapat menyebabkan penularan di mana terdapat lesi kulit atau mulut. Hindari melakukan kontak dengan siapa pun yang memiliki gejala. Oleh karena itu, orang yang berinteraksi termasuk pasangan seksual juga memiliki risiko lebih besar untuk terinfeksi. Saat ini belum diketahui secara pasti penularan melalui air mani atau cairan vagina. Begitu pula penularan dari orang tanpa gejala (asimptomatis) belum pasti.

Tanda dan Gejala Monkeypox

Masa inkubasi (interval dari infeksi sampai timbulnya gejala) monkeypox biasanya 6 – 13 hari, tetapi dapat berkisar dari 5 – 21 hari. Masa infeksi dapat dibagi ke dalam 2 fase:

  1. Fase akut atau prodromal (0 – 5 hari): berupa demam, sakit kepala hebat, limfadenopati (pembengkakan kelenjar getah bening), nyeri punggung, nyeri otot, dan kelelahan yang terus menerus. Limfadenopati dapat dirasakan di leher, ketiak atau selangkangan/lipatan paha.
  2. Fase erupsi (sekitar 1 – 3 hari setelah timbul demam): berupa munculnya ruam atau lesi pada kulit biasanya dimulai dari wajah kemudian menyebar ke bagian tubuh lainnya secara bertahap. Ruam paling banyak muncul pada wajah (95% kasus), telapak tangan dan telapak kaki (75% kasus). Ruam atau lesi ini berkembang mulai dari bintik merah seperti cacar (makulopapula), lepuh kecil berisi cairan bening (vesikel), lepuh kecil berisi nanah (pustula), kemudian mengeras atau krusta lalu rontok. Pada fase yang berlangsung sekitar 10 hari ini, seseorang berpotensi menularkan penyakit ini hingga semua krusta menghilang dan rontok. Biasanya diperlukan waktu hingga 3 minggu sampai fase erupsi ini menghilang dan rontok (memasuki fase konvalesen atau penyembuhan).

Penyakit ini biasanya berlangsung selama 2−4 minggu. Di Afrika, monkeypox telah terbukti menyebabkan kematian pada 1 dari 10 orang yang terjangkit penyakit tersebut. Kasus yang berat lebih banyak terjadi kelompok berisiko (anak-anak, hamil, gangguan system imun), terkait dengan tingkat paparan virus, status imunitas pasien dan tingkat keparahan komplikasi. Komplikasi meliputi infeksi sekunder, pneumonia, ensefalitis dan infeksi kornea hingga hilangnya penglihatan.

Diagnosis Monkeypox

Diagnosis monkeypox berdasarkan pada manifestasi klinis, dan pemeriksaan laboratorium. Ruam dimulai dengan makula, papula, vesikel dan berkembang menjadi krusta. Ruam akan mengenai area wajah (95% kasus), telapak tangan dan kaki (75%kasus), membrane mukosa oral (70% kasus), genitalia (30% kasus), konjungtiva dankornea (20%). Krusta akan menghilang dalam waktu 3 minggu.

Secara klinis, diagnosis banding monkeypox dapat mempertimbangkan penyakit dengan ruam lainnya, seperti smallpox (meskipun sudah dieradikasi), cacar air (varicella/chickenpox), campak, infeksi kulit akibat bakteri, kudis, sifilis, dan alergi terkait obat tertentu. Limfadenopati selama fase prodromal dapat menjadi gambaran klinis khas untuk membedakan monkeypoxdengan penyakit cacar lain yang serupa, seperti smallpox, cacar air/varicella (chickenpox), dan lain-lain.

Pengobatan Monkeypox

Belum ada pengobatan yang spesifik untuk infeksi virus Monkeypox. Pengobatan simptomatik dan suportif dapat diberikan untuk meringankan keluhan yang muncul.

Baca juga: Ingin Mengonsumsi Minuman Beralkohol? Tunggulah Sampai Kamu Berusia Lanjut

Vaksin yang digunakan selama program pemberantasan cacar (smallpox) memberikan perlindungan terhadap monkeypox. Vaksin baru yang dikembangkan untuk smallpox telah disetujui pada tahun 2019 untuk digunakan dalam mencegah monkeypox namun ketersediaan global masih terbatas.

Sumber: PEDOMAN PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN PENYAKIT MONKEYPOX (KEMENTERIAN KESEHATAN RI DIREKTORAT JENDERAL DAN PENGENDALIAN PENYAKIT 2022).

Donasi seikhlasnya demi keberlangsungan blog ini:

Nih buat jajan

dokterMade

Seorang dokter yang suka ngeblog dan berteman.