Lebih Dekat dengan Dr. Tahir: Berderma untuk Indonesia yang Lebih Baik

tips pasutri

tips pasutri

Tahir Muda yang Pantang Menyerah

Dr. Tahir (lahir di Surabaya 26 Maret 1952, umur 61 tahun ) adalah seorang pengusaha sukses di Indonesia, investor, filantropis, sekaligus pendiri Mayapada Group, sebuah holding company yang memiliki beberapa unit usaha di Indonesia. Unit usahanya meliputi perbankan, media cetak dan TV berbayar, properti, rumah sakit dan rantai toko bebas pajak (DFS).

Tahir kecil dibesarkan di salah satu sudut Surabaya pada tahun 1952 di sebuah lingkungan yang rata-rata warganya tergolong tidak mampu. Dia dibesarkan oleh seorang ayah yang menghidupi keluarga dengan membuat becak, sementara ibunya turut membantu keluarga dengan mengecat becak yang dibuat ayahnya itu. Tahun 1971, dia menamatkan pendidikan menengah atas (SMA) di SMA Kristen Petra Kalianyar Surabaya.

Dekade 60-an, ketika Tahir baru mendapat secarik ijazah SMA dia pernah bercita-cita ingin menjadi seorang dokter namun tidak kesampaian. Cita-cita tersebut kandas karena pada suatu ketika, ayahnya mengalami sakit keras hingga tidak sanggup lagi membiayai keluarga. Rencana Tuhan mengubah jalan hidup yang telah dia rancang. Karena sakit yang diderita oleh ayahnya tersebut Tahir muda harus berhenti kuliah dan melanjutkan bisnis ayahnya di Surabaya.

Namun Tahir tidak mau begitu saja menyerah pada nasib. Ia mencalonkan diri untuk program beasiswa dan kegigihan membuatnya mendapatkan beasiswa sekolah bisnis di Nanyang University, Singapura. Di negeri Singa itu, Tahir menempuh studi sembari tiap bulan mencari produk di Singapura untuk dijual di Surabaya. Dia membeli pakaian wanita dan sepeda dari pusat perbelanjaan di Singapura, dan menjualnya kembali ke Indonesia.

Dari sinilah, ia mendapatkan ide untuk kapitalisasi produk impor guna membantu biaya sekolahnya. Inilah pula awal dari bisnis garmen yang kemudian serius dia geluti. Pasca lulus sarjana dari Nanyang University, Singapura, ia bersekolah kembali lalu menyelesaikan pendidikan keuangan di Golden Gates University, Amerika Serikat untuk menyelesaikan program Master.

Membangun dan Mengembangkan Kelompok Usaha

Pengalaman dan keberaniannya dalam berbisnis pada akhirnya membawanya menjadi seorang pengusaha muda. Dia dikenal sebagai pengusaha ulet dengan bisnis beraneka ragam, dan semuanya sukses di tangan Tahir. Dari garmen lambat laun Tahir muda mulai berani memasuki bidang bisnis lain. Ia memasuki bidang keuangan. Diawali dari Mayapada Group yang didirikannya pada 1986, bisnisnya merambah ke dealer mobil, garmen, perbankan, sampai kesehatan. Tahun 1990 Bank Mayapada lahir menjadi salah satu bisnis andalannya, menggantikan bisnis garmenya yang mengalami stagnasi.

Saat krisis ekonomi 1998 menghantam negeri ini, banyak bank pemerintah maupun swasta yang ambruk. Namun di tengah situasi tidak stabil seperti itu, Bank Mayapada tetap bertahan, malah masuk ke pasar Saham Bursa Efek Jakarta. Aktivitas perbankan Bank Mayapada tidak lumpuh karena ia tidak mengambil kredit dari bank asing sebesar bank-bank di Indonesia pada waktu itu. Bank Mayapada saat itu masih berfokus pada pengucuran kredit usaha kecil dan menengah. Pada 2007, justru bank ini mendapatkan predikat bank umum terbaik nomor 2 dari majalah InfoBank.

Orang Terkaya ke-12 di Indonesia

Kini Dr. Tahir tercatat sebagai orang terkaya ke-12 di Indonesia. Harta kekayaannya saat ini mencapai 2 miliar dolar AS atau setara dengan 19 triliun rupiah. Dia dikenal sebagai pengusaha ulet dan bertangan dingin karena bisinis yang ia pegang selalu berkembangan dan membuahkan hasil. Dia cerdas dalam membaca situasi bisnis di sekitarnya. Ini-lah yang menjadi kunci kesuksesannya dalam berbisnis.

Setelah mendapatkan kesuksesan di bisnis garmen dan perbankan, Tahir pun mulai melirik ke sektor rumah sakit karena terinspirasi oleh cita-cita waktu mudanya, dilanjutkan dengan toko bebas bea serta perusahaan media.

Saat ini Tahir tercatat sebagai pemegang saham perusahaan PT Wahana Mediatama, yang memiliki izin (lisensi) untuk penerbitan Forbes Indonesia. Selain itu, kelompok usaha Mayapada Group terus berkembang dengan sebelas perusahaan properti yang berlokasi di Bali, Indonesia dan Singapura.

Dari anak seorang pembuat becak, perjuangan dan kegigihan membuat Tahir menjadi pengusaha papan atas yang sukses menjalankan bisnis Grup Mayapada. Dengan bisnis yang terus berkembang dan banyaknya perusahaan yang dia miliki, Tahir mampu mempekerjakan ribuan pekerja dan menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat Indonesia. Pada 2008, Tahir dianugerahi gelar Doktor Kehormatan oleh Universitas 17 Agustus 1945, Surabaya sebagai bentuk apresiasi terhadap keseriusannya dalam pengembangan usaha kecil di Indonesia.

Bisnis Menjadi Berkat

Di balik semua limpahan rezeki yang diperolehnya, Tahir meyakini bahwa bisnis dan kesuksesan adalah sarana untuk menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesama. Maka selain berbisnis, Tahir juga gemar berderma.

Bapak empat orang anak ini masih teguh memelihara asa masa kecilnya. Langkah nyata meretas asa itu dibuktikan Tahir dengan membangun Rumah Sakit Mayapada yang berlokasi di Tangerang dan Jakarta. Melalui rumah sakit ini, Tahir memudahkan akses pelayanan kesehatan bagi warga tidak mampu. Bahkan pada peresmian rumah sakit-nya saat itu, Tahir memberikan pengobatan jantung gratis untuk penderita penyakit jantung yang berasal dari keluarga kurang mampu.

Seiring bisnisnya yang semakin pesat, portofolio kedermawanannya juga bertambah. Puluhan juta dolar AS beberapa kali keluar dari kantongnya demi peningkatan layanan kesehatan keluarga dan pemberantasan penyakit seperti malaria dan polio. Selain itu, derma sosial Tahir juga diperluas dengan pemberian beasiswa dan bantuan pengembangan pendidikan lain. Skala donasinya bukan hanya di tingkat nasional, melainkan juga regional dan global.

Ibukota Indonesia pun turut kecipratan donasi Tahir. Banjir besar yang melumpuhkan aktivitas masyarakat Jakarta pada tahun 2013 menggerakkan Tahir bersama bos Maspion Group Alim Markus dan bos Lippo Group sekaligus mertuanya Mochtar Riady untuk mendonasikan 7 miliar rupiah dalam bentuk pengadaan air bersih, buku dan juga seragam sekolah bagi anak-anak korban banjir di Jakarta.

Berderma dengan Strategi

Kabar teranyar dari aktivitas kedermawanan Tahir adalah keberhasilannya bermitra dengan Bill & Melinda Gates Foundation, yayasan sosial yang didirikan sosok terkaya dunia Bill Gates. Tahir menyumbangkan dana hingga 75 juta dolar AS setara sekitar 900 miliar rupiah kepada The Global Fund untuk menanggulangi masalah TBC, HIV, dan malaria serta untuk perkembangan program Keluarga Berencana (KB).

Tahir percaya, berderma pun perlu strategi. Itu sebabnya ia merangkul Gates. Bill & Melinda Gates Foundation mempunyai skema matching fund, artinya setiap donasi yang dikeluarkan oleh mitra akan dilipatgandakan dua kali lipat. Donasi 75 juta dolar AS itu akhirnya beranak menjadi 150 juta dolar AS, dan dikembalikan ke Indonesia sebagai salah satu negara penerima donasi. Sesuai kebijakan The Global Fund, sebuah negara hanya berhak menerima donasi apabila ada seorang warga negara tersebut yang menjadi donatur ke The Global Fund. Dan Tahir menjadi orang pertama serta satu-satunya yang menjadi donatur ke lembaga ini.

"Ini merupakan contoh aksi filantropi paling fenomenal baik bagi Indonesia maupun regional," ujar Bill Gates kala itu di Abu Dhabi. Menurut Gates, Indonesia dianggap telah berhasil meningkatkan angka kesehatan warga negaranya, walaupun masih banyak juga permasalahan yang harus diselesaikan.

fiforlif kolesterol

loading...

loading...

Terima kasih telah membaca tulisan diatas. Bila berkenan, Anda bisa membantu pengembangan blog ini dengan klik tombol di bawah ini:

dokterMade

Seorang dokter yang kebetulan suka ngeblog dan berteman.