Berbagi Ide Inovasi dalam Meningkatkan Akses Dalam Layanan Kesehatan

Ternyata meningkatnya perekonomian tidak berarti akses menuju pelayanan kesehatan yang lebih baik menjadi mudah. Lebih dari 50% penyebab kematian disebabkan oleh penyakit tidak menular, seperti kanker, penyakit jantung, dan lainnya. Namun disebuah situs ( bit.ly/voteide ), saya membaca beberapa ide inovasi menarik dalam meningkatkan akses dalam layanan kesehatan. Hebatnya ide-ide ini seandainya dapat diwujudkan akan dapat dinikmati oleh masyarakat Indonesia secara gratis.

Ide Inovasi yang pertama menarik untuk saya adalah CARDIEC, bagi para dokter mungkin mendengar judul dari ide ini sudah bisa mengambil kesimpulan idenya berbicara tentang apa, namun orang awam pasti penasara. CARDIEC (Cardiac arrest – Integrated Emergency Console) adalah alat komunikasi seukuran kartu kredit (sehingga dapat disimpan di dompet). CARDIEC dapat dibuka (mekanisme seperti liontin kalung yang dapat dibuka dan berisi foto) dan di dalamnya terdapat obat emergency yang diperlukan oleh seseorang saat mengalami gejala khas angina pectoris (Aspirin dan ISDN) dan juga terdapat tombol yang apabila ditekan akan secara otomatis mengirimkan pesan singkat ke database pusat dan maksimal 5 nomor HP yang telah terdaftar sebelumnya. Untuk menunjang sistem ini, perlu dibuat satu website database yang memuat registry pasien-pasien yang telah memegang CARIDIEC, dan juga berbagai informasi mengenai serangan jantung yang perlu diketahui oleh awam. Ide yang dicetuskan oleh Adisaputra Ramadhinara ini, idenya muncul ketika dia melihat tingkat insiden serangan jantung, terutama yang terjadi di luar rumah sakit, dapat membawa dampak negatif yang sangat besar, bahkan seringkali berujung pada kematian. Data statistik kejadian serangan jantung di Amerika Serikat pada tahun 2013 seperti yang dipublikasi oleh American Heart Association di Heart Disease and Stroke Statistics – 2013 Update menunjukkan angka yang cukup besar (359.400 kejadian), sementara jumlah pasien yang berhasil melewati episode serangan jantung tersebut (pasien yang berhasil sampai ke RS dan dipulangkan ke rumah dalam keadaan stabil) hanya 9.5% dari mereka yang mengalami serangan tersebut.

Pajak Games

Masih berhubungan dengan penyakit jantung, Ria Susilowati salah satu finalis di website tersebut memiliki ide yang akan membantu dalam penanggulangan keadaan darurat. Ria memiliki ide untuk membuat sebuah aplikasi handphone yang bisa digunakan di Indonesia yang dapat memberitahukan para sukarelawan yang berada di dekat seseorang yang mengalami serangan jantung. Sukarelawan ini bisa dari dokter, perawat atau seseorang yang terlatih dengan CPR. Sehingga sukarelawan tersebut dapat memberikan pertolongan kepada korban secara cepat sebelum ambulan datang. Bayangkan juga jika aplikasi ini bisa digunakan untuk korban kecelakaan atau keadaan darurat lainnya. Maka lebih banyak nyawa yang bisa diselamatkan. Sekaligus untuk menumbuhkan rasa kepedulian sosial akan sesama manusia menjadi semakin tinggi.

Loading...

Selain kedua ide diatas masih ada ide dari Ilham Nurachman, dimana bagi dia hal yang mendasar pada layanan kesehatan adalah kesehatan ibu dan anak. Layanan kesehatan pada ibu hamil, pada saat melahirkan dan setelah melahirkan mempunyai peranan yang penting dalam
meningkatkan keberhasilan pelayanan kesehatan. Data MDGs tahun 2011 ( http://dinkeskebumen.files.wordpress.com ) angka kematian ibu masih 228. dan proporsi kelahiran yang ditolong tenaga kesehatan terlatih menjadi 77.4% .

Tingkat keberhasilan untuk mengurangi kematian Ibu dan anak adalah tergantung pada akuratnya diagnosa dokter pada saat pemeriksaan kehamilan. Sedangkan pada puskesmas apalagi di daerah pegunungan atau pedesaan tidak ada alat diagnosa kehamilan (USG). USG yang teratur untuk wanita dapat mendeteksi kista dan mioma serta mengurangi resiko bayi lahir tidak sehat atau bayi prematur.

Untuk kemudahan mobilitas dan membantu kelengkapan kerja tenaga terlatih dan dokter maka perlu adanya suatu perlengkapan praktis yang mendukung suatu tindakan medis. Ibu dan Anak (BUNA) Medical Kit merupakan perlengkapan standar yang dimasukkan dalam tas ransel, minimal terdapat USG portable, partus set, tensi meter, emergency lamp LED, sarung tangan sterile lateks, kompor portable, korek, tempat air militer, bubuk penjernih air, selimut, pembalut wanita, dan obat-obatan. Perlengkapan ini bisa dilengkapi alat lain sesuai dengan kebutuhan.

Paket standar BUNA Med kit dalam jangkauan yang lebih luas merupakan suatu sistem informasi terpadu dan terintegrasi mengenai kesehatan ibu dan anak. Data baik teks maupun grafis hasil USG bisa langsung dikirim ke pusat data(puskesmas) dan atau rumah sakit yang dapat dipakai sebagai data pendukung suatu keputusan medis.

Ide terakhir dalam upaya meningkatkan akses dalam layanan kesehatan datang dari Gede Bayu Saputra. Idenya adalah membuat fasilitas radiografi digital snar-x yang murah, aman, efisien, tapi efektif untuk melakukan pradiagnostik. Lagi pula, dengan fasilitas teleradiologi yang bisa dia dan tim-nyai bangun dan dikembangkan sendiri, akhirnya masyarakat tidak perlu melakukan mobilisasi dokter radiologis hingga ke desa. Dokter radiologis cukup berkumpul di kota, menanti dan menerima data dan foto radiografi digital pasien yang masuk ke database teleradiologi kami. Lalu, dokter yang ditunjuk dapat memberikan diagnose dan memberikan pendapat atas status kesehatan seseorang. Data itu selanjutnya dikirim kembali ke desa melalui sistem teleradiologi untuk ditindak-lanjuti. Bila statusnya sehat/tidak ada indikasi penyakit, maka pasien di desa dapat berhemat. Sebaliknya, bila statusnya terindikasi sakit, maka pasien dan keluarganya di desa memiliki kesiapan yang lebih baik. Ide ini pasti bisa dilaksanakan untuk memulainya adalah dengan membuat unit bis radiologi keliling yang dapat menjangkau pelosok desa, lengkap dengan fasilitas internetnya.

Sumber : Philips.to/finalis

Tulis Komentar

loading...