Ngurus STNK Hilang

Disaat bangsa Indonesia merayakan proklamasi kemerdekaan yang ke-62, saya malah sedang bernasib sial. STNK motor Honda SupraX yang sering dipake istri hilang entah kemana. Berhubung motor ini tidak hanya dipakai oleh istri saya, sempat juga dipakai oleh adik, bapak, dan saya, maka tentu akan sangat sulit untuk melacak kapan hilangnya. Sudah menjadi kebiasaan di kalangan kami, bahwa bila motor yang sering dipakai barengan seperti itu, STNK di taruh di bawah jok untuk menghindari budaya lupa.

Berbagai upaya telah saya coba untuk menemukan kembali STNK itu, baik melalui penerawangan alam gaib (huehehehehe), maupun peneropongan di alam nyata dengan mengobok obok seisi rumah. Namun semua upaya itu hanya berbuah kenihilan. Akhirnya setelah capek mencari dengan tanpa hasil maka melalui rapat keluarga yang disertai dengan adu otot eh adu argumentasi dan debat sengit, kami putuskan untuk membuat STNK baru lagi ke samsat. Masalah baru muncul, bagaimana cara mengurusnya?

Sebenarnya kalau mau bertanya ke kantor samsat sih bisa saja, lagian jarak antara kantor samsat dengan rumah saya tidaklah begitu jauh, cuma rasanya koq ya ada yang kurang rasanya kalau tidak memanfaatkan dunia teknologi informasi. Maka mulailah saya menjelajahi dunia antah berantah internet untuk mencari informasi tentang proses pengurusan STNK yang hilang di Bali. Sayang beribu sayang, upaya saya itu sia sia, sebab kebanyakan informasi yang saya dapatkan yaitu cara pengurusan STNK hilang di Jakarta. Sedangkan info proses pengurusan STNK untuk di Bali sama sekali tidak ada. Dengan sedikit putus asa, akhirnya saya putuskan menggunakan jalan konvensional yaitu menuju kantor samsat untuk bertanya :).

Memuat...

Setelah mempersiapkan diri baik secara fisik maupun mental, tepat pukul 08.00 WITA, tanggal 23 Agustus 2007, saya berangkat ke kantor samsat yang letaknya di seputaran Renon. Lima belas menit kemudian saya tiba di kantor samsat dan langsung menuju meja informasi untuk bertanya. Syukurlah, petugas di kantor samsat ini baik banget sehingga saya tidak mendapatkan kesusahan lagi untuk hanya memperoleh sebuah info. Setelah mendapatkan cukup info, saya langsung cabut dan menuju kantor Poltabes Denpasar untuk mendapatkan Surat Keterangan Kehilangan Benda dan Rekomendasi Tilang dari Polisi.

Tepat pukul 10.00 WITA, saya tiba di Poltabes dan langsung menuju kantor pelayanan umum yang letaknya di pintu gerbang bagian barat. Seperti layaknya orang membuat berita acara kehilangan, saya ditanya macam macam tentang hal ihwal mengenai kehilangan STNK. Petugas yang cukup ramah itu menyelesaikan tugasnya membuat Surat Keterangan Kehilangan Benda sekitar 15 menit, lalu menyodorkan berkas tersebut ke saya. Karena merasa terbantu, saya lalu menanyakan mengenai pembayaran, eh langsung dijawab, “sukarelanya Bapak aja”…hm…jawaban yang tidak saya harapkan karena membuat saya bingung mau membayar berapa. Akhirnya tangan saya merogoh dompet dan menyerahkan selembar uang 20ribuan. (cukup nggak yah?)

Langkah selanjutnya saya menuju Kantor Urusan Tilang yang letaknya di bagian belakang Poltabes. Disana saya membuat berkas Rekomendasi Tilang yang menyatakan bahwa motor yang saya miliki tidak dalam proses penilangan. Proses pengerjaannya relatif lebih lama karena saya harus mengantri. Disini pembayarannya lebih jelas, karena begitu berkas selesai, petugas langsung nyeletuk, sepuluh ribu.

Pulang dari Poltabes, saya kembali ke kantor samsat untuk melaksanakan langkah selanjutnya yaitu cek fisik. Disini saya diminta membayar 5ribu untuk stiker dan blangko pengesahan cek fisik. Prosesnya tidak begitu lama karena kebetulan tempat cek fisik lagi sepi dan petugas yang melaksanakan memang cukup cekatan.

Setelah cek fisik, saya ke kantor pajak untuk mendapatkan Leges atau bukti lunas pajak kendaraan. Kantor pajak letaknya persis di belakang kantor samsat sehingga sangat menghemat energi dan cukup memudahkan. Begitu leges selesai, dengan ramah petugas magang meminta 5ribu rupiah sebagai biaya pembuatan leges.

Langkah terakhir yaitu menuju kantor duplikasi STNK yang letaknya di lantai 2 kantor samsat Denpasar. Semua berkas saya diterima dan dilegalisasi dalam 1 map. Sebelum pulang saya diberikan surat pemberitahuan kalau STNK masih dalam proses dan dipesankan untuk mengambil STNK hari senin (wah lama banget).

Demikianlah perjalanan saya mengurus kehilangan STNK di tempat saya tinggal, kota Denpasar. Semoga ini bisa menjadi acuan bagi mereka yang kebetulan kehilangan STNK dan bertempat tinggal sama dengan saya. Sekedar informasi, bila menggunakan biro jasa, maka biaya yang diminta adalah 250rb, mahal sekali ya, makanya lebih enak ngurus sendiri 🙂

Nih buat jajan