Antioxidant Update

tips pasutri

tips pasutri

Seperti diketahui, berbagai radikal bebas yang berasal dari polusi, asap rokok, sinar ultraviolet, makanan berlemak dan lain lain secara terus menerus 24 jam sehari dan 7 hari seminggu, masuk ke dalam tubuh, menyebabkan proses oksidasi dan mengacaukan struktur sel manusia (stress oxidatif). Hal ini bila berlangsung lama akan menyebabkan berbagai gangguan kesehatan seperti penyakit kardiovaskuler, proses penuaan dini, kanker dan sebagainya.

Salah satu cara untuk menangkal radikal bebas adalah dengan pemberian antioksidan dari luar. Tetapi saat ini berbagai antioksidan yang dikenal justru menghasilkan radikal bebas baru (prooksidan) bila digunakan dalam jumlah besar dan lama.

Hal tersebut terungkap dalam simposium Astaxanthin, The Only Strongest and Safest Antioxidant without Any Pro-oxidant yang diselenggarakan oleh Fakultas Kedokteran Universitas Udayana bekerjasama dengan PT Soho. Simposium yang rutin diselenggarakan tiap bulan oleh FK UNUD ini menghadirkan dua orang pembicara lokal yaitu Prof. dr. N. Dwi Sutanegara, SpPD KEMD, yang juga sebagai guru besar bagian penyakit dalam FK UNUD dan dr Budiastra, SpM, staf bagian penyakit mata FK UNUD. Disamping itu, hadir pula dua orang pembicara tamu, Vincent Wood. MRes, PhD dan Eiji Yamashita, PhD, dua orang peneliti dari Fuji Health Science, Jepang.

Prof. Dwi dalam paparannya lebih banyak menyoroti peranan radikal bebas dalam proses terjadinya komplikasi pada pasien pasien diabetes melitus seperti Neuropathy DM, Nepropathy DM dan Retinopathy DM. Sedangkan dr. Budhiastra, SpM yang mendapat giliran kedua menekankan lebih banyak kepada peranan radikal bebas pada kelainan kelainan yang terjadi pada mata khususnya pada retina dan makula.

Pada sesi berikutnya terungkap tentang Astaxanthin yaitu suatu antioksidan yang paling kuat yang pernah ditemukan. Antioksidan yang termasuk golongan karotenoid ini mempunyai kekuatan 550 kali lebih kuat dari Vitamin E, 40 kali lebih kuat dari beta karoten dan 6000 kali lebih kuat dari Vitamin C. Data data ini diungkap oleh dua orang Doktor pembicara dari Jepang yang merupakan hasil dari beberapa clinical trial yang dilakukan di Jepang dan beberapa negara di Eropa.

Sayangnya karena penelitian tentang manfaat Astaxanthin ini baru dilakukan kurang dari 10 tahun maka banyak khasiat lain dari suplemen makanan ini yang belum diketahui secara pasti. Hal ini diakui oleh Vincent Wood menjawab pertanyaan peserta simposium tentang peranan Astaxanthin pada penderita Fatty Liver.

Simposium yang dihadiri oleh lebih kurang 50 dokter dari seputaran Denpasar ini ditutup pada pukul 12.30 dengan pemberian Door Prize dan makan siang.

fiforlif kolesterol

loading...

loading...

Terima kasih telah membaca tulisan diatas. Bila berkenan, Anda bisa membantu pengembangan blog ini dengan klik tombol di bawah ini:

dokterMade

Seorang dokter yang kebetulan suka ngeblog dan berteman.